Jejak Kereta Api di Bondowoso
Kereta api merupakan alat
transportasi yang massif digunakan di Indonesia. Karena faktor kenyamanan nya
dan harga yang dapat dijangkau sebagian besar masyarakat kereta api menjadi
pilihan transportasi umum untuk berpergian jauh. Perkembangan kereta api di
Indonesia lekat dengan era kolonial Belanda. Sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai pada 17
Juni 1864 ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta)
di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia
Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele. Pembangunan dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dengan
lebar sepur 1435mm
Dalam verslag yang dibuat oleh Staatssporwegen, jalur KA di Bondowoso diresmikan pada tanggal 1 Oktober
1897 sebagai bagian dari proyek jalur kereta api Jember-Panarukan.
Stasiun-stasiun kereta api yang ada di jalur ini sepenuhnya tergolong klasik,
karena mengusung arsitektur Neoklasik dan Indische Empire. Dari Stasiun Situbondo terdapat jalur cabang menuju Pabrik
Gula Panji yang terlebih dahulu ditutup.
Asal usul
pembangunan ini dapat dilacak dari megaproyek Staatssporwegen (SS)
mengembangkan jalur kereta api yang mempersatukan Pulau Jawa. Salah satunya
adalah lintas Probolinggo–Kalisat–Panarukan. SS, yang berdiri pada tanggal 6
April 1875, memanfaatkan konsesi izin pembangunan jalur kereta apinya dari
Pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api Bogor–Yogyakarta,
Surabaya–Solo dan Surabaya–Malang, serta Surabaya–Probolinggo.
Begitu SS
puas mengembangkan jalur tersebut, jalur kereta apinya kemudian dipanjangkan
lagi hingga menjangkau kota pelabuhan Panarukan yang kala itu sudah
dipersatukan dengan kota-kota penting lainnya di Jawa dengan Jalan Raya
Pos Daendels. Jalur Probolinggo–Panarukan itu sendiri tertuang dalam
konsesi tertanggal 23 Juni 1893, sepaket dengan rencana pembangunan jalur
cabang ke Pasirian untuk keperluan pengangkutan pasir besi. Pada
mulanya pihak SS memutuskan membangun jalur cabang ini dari Randuagung,
tetapi per 1894, SS mengalihkan jalur cabangnya itu ke Stasiun Klakah karena
jaraknya relatif dekat bila dibandingkan dengan dari Randuagung.
Meneruskan
jalur kereta api Pasuruan–Probolinggo pada tahun 1884, SS membangun jalur ini
dengan penuh tantangan. Jalur kereta apinya sendiri membelah hutan dan kebun,
melewati tempat-tempat terpencil, hingga akhirnya sampailah di Jember pada
tanggal 1 Juli 1897. Segmen terakhirnya, Jember–Kalisat–Panarukan, beroperasi
pada tanggal 1 Oktober 1897. Stasiun Bondowoso beroperasi setelah
jalur segmen terakhir ini selesai.
Stasiun
Bondowoso dibangun pada tahun 1893 dan diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1897
oleh Staatssporwegen (SS) bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api
Jember-Kalisat-Bondowoso-Panarukan. Jalur tersebut merupakan kelanjutan
dari pembangunan perkeretaapian yang ada yaitu jalur
Bangil-Pasuruan-Probolinggo yang beroperasi pada tahun 1884. Jalur kereta api Panarukan-Bondowoso-Kalisat-Jember pada
awalnya digunakan untuk mengangkut komoditas penting seperti tembakau, kopi,
beras dan produk perkebunan lainnya seperti teh dari Jember, Banyuwangi,
Bondowoso dan Situbondo ke Port Panarukan. Stasiun Bondowoso sebagai
stasiun terbesar di Bondowoso biasa melayani kereta lokal Jember dan tujuan
Panarukan. Namun, pada tahun 2004 stasiun Bondowoso dan jalur
Panarukan-Bondowoso dinonaktifkan karena infrastrukturnya sangat tua.
Stasiun Bondowoso memiliki nilai sejarah penting yang terjadi pada tanggal 23 November 1947. Acara Dead Carrier adalah pengalihan 100 pejuang yang menjadi tahanan kolonial Belanda dari Stasiun Bondowoso menggunakan tiga mobil pengangkut barang. Karena kondisi gerbong tertutup yang diisi oleh lebih dari 30 orang serta panasnya udara pada saat itu membuat 46 pejuang tempur dalam proses pemindahan.
Sebagai upaya untuk melestarikan dan menghormati para pahlawan Indonesia terutama bagi para pejuang yang tewas dalam peristiwa heroik "Gerbong Maut", Stasiun Bondowoso dikonversi menjadi museum yang merupakan Museum Kereta Api dan Kereta Api Bondowoso. Peresmian diadakan pada tanggal 17 Agustus 2016 bertepatan dengan ulang tahun ke-71 Indonesia oleh Bupati Bondowoso, Drs. H. Amin Said Husni
Di stasiun kereta api yang sekarang menjadi Museum Kereta Api Bondowoso inilah peristiwa tersebut bermula. Gerbong Maut yang asli masih tersimpan di Museum Brawijaya sebagai saksi perjuangan rakyat Indonesia membela tanah airnya.Museum Kereta Api Bondowoso memiliki sejumlah koleksi terkait dengan sejarah perkeretaapian Bondowoso di masa lalu, seperti miniatur kereta dan gerbongnya, komoditas perekonomian masa itu, alat-alat perkeretaapian yang digunakan, hingga replika gerbong maut yang tengah disiapkan oleh PT.KAI.
Wacana mengenai Reaktivasi jalur Kereta Api
di jalur Jember - Panarukan sudah sejak lama. Setelah pasif sekian lama jalur
Kereta api yang tentunya melewati Kabupaten Bondowoso akhirnya akan
direaktivasi. Stasiun Bondowoso akan aktif kembali. Sebelumnya
Stasiun Bondowoso digunakan sebagai museum Kereta Api.Hal ini selaras
dengan kandungan Perpres No 80 tahun 2019. Dalam perres ini disebutkan jika
akan ada percepatan pembangunan ekonomi yang di dalamnya untuk mendukung dan
memberikan tambah pembangunan di Kawasan Selingkar Ijen dan Kawasan Madura dan
Kepulauan. Pembahasan mengenai reaktivasi jalur kereta api Jember -
Panarukan ini sudah dibahas sejak 14 Juli 2022. Rencana reaktivasi sudah
menjadi prioritas.
Buntut dari rencana reaktivasi jalur kereta api Kalisat -
Bondowoso - Situbondo - Panarukan yang disampaikan oleh Direktorat Jenderal
Perkeretaapian beberapa waktu lalu membuat masyarakat yang berada di wilayah
tersebut saling menyuarakan aspirasi mereka bahkan menuai pro dan kontra.
Dari Hasil analisa, jalur Kalisat
- Bondowoso ke Panarukan merupakan jalur yang paling mudah untuk
direaktivasi, dari lima jalur kereta api yang dianalisa untuk
di reaktivasi di Indonesia. Hasil studi kelayakan Antara, jalur keeta api
Kalisat-Panarukan mendapat prosentase kelayakan tertinggi untuk
di reaktivasi. Dinyatakan layak di reaktivasi. Namun perjalanan
pembangunannya masih panjang.
Referensi
-
https://heritage.kai.id/page/sejarah-perkeretapian
-
https://heritage.kai.id/page/museum-bondowoso
-
Reitsma, S.A. (1925). Boekoe Peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia-Belanda. Weltevreden: Topografische Inrichting.
- "Wijziging van de Aansluiting
van den Zijtak naar Pasirian aan de Hoofdlijn
Probolinggo-Panaroekan". de Indische gids. 16:
1173. 1894.
-
Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen
in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken.
Komentar
Posting Komentar